Bingung adalah representasi dari ketidakmengertian mengenai suatu situasi. Situasi dapat berupa rencana dapat pula masalah yang sedang dihadapi. Bagaimana jika semua orang dalam suatu entitas bingung dan tidak mengerti akan berbuat apa?

Syahdan, suatu entitas A dirundung kebingungan untuk melakukan mengeksekusi pekerjaannya. Seperti entitas lainnya, entitas A sudah memiliki perencanaan yang sangat matang. Rencana tersebut sudah termaktub dalam kitab suci yang disebut sebagai RKAP. Kitab inilah yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan pekerjaan beserta batasan pagu anggaran yang tidak boleh dilanggar. Sebagai suatu rencana, RKAP tersebut terhitung sebagai suatu yang ideal karena berupa rencana aksi secara korporasi / umum yang selanjutnya diterjemahkan dalam RKAP lanjutan yang bersifat khusus.

Entitas A bingung untuk merealisasikan RKAP yang dimiliki karena beberapa faktor:

1. SDM ternyata tidak mendukung. Bayangkan jika kita akan melakukan suatu proyek yang sangat besar yang membutuhkan keahlian dan kompetensi khusus di bidang yang sangat rumit. Sudah barang tentu entitas A harus memiliki profesinal yang mumpuni yang meliputi keahlian lintas sektoral. Namun apa daya ternyata entitas A tidak memilikinya. Entitas A hanya didukung oleh beberapa profesional yang masih jauh dikatakan sebagai prefesional. Dalam bekerja pun banyak yang tidak mentaati standar yang ada.

2. Terjemahan dari RKAP tersebut ternyata rumit. Jika RKAP dulu disusun dengan metode bottom up niscaya semua orang pasti tahu mengenai apa dan bagaimana RKAP itu. Ekses dari keadaan ini adalah timbulnya perdebatan yang panjang mengenai konsep untuk menuju ke RKAP. RKAP dengan ini menjadi bahan wacana yang gampang diperdebatkan bukannya sebagai suatu konsep yang matang yang gampang dieksekusi. Perdebatan para thinker dalam entitas A seperti tiada berujung malahan menimbulkan ide untuk lari dari RKAP.

3. Perangkat pendukung tidak disiapkan dengan baik. Bayangkan jika tentara yang akan menuju medan perang dipersenjatai dengan senapan angin yang rusak. Pilihannya hanya ada dua yaitu mati dengan konyol di medan perang atau tidak berangkat perang sama sekali. Perangkat kerja berupa manual dan SOP belum siap sehingga kalau mencoba untuk merealisasikan RKAP maka pelaksana di entitas A tidak memiliki guidance yang jelas. Betapa susuh untuk mengukur kriteria keberhasilan pekerjaan sementara perangkat untuk melakukan pekerjaan tidak tersedia dan standar pelaporan yang menjadi muara suatu pekerjaan tidak tergambar dengan baik.

4. Sistem yang berlaku dalam induk entitas tidak memungkinkan entitas A untuk bergerak dengan dinamis. Coba saja jika kita memiliki keleluasaan untuk menentukan prioritas dan struktur kerja yang loose (tidak terlalu ketat) saya yakin setiap pekerja akan dapat mengembangkan kreatifitisnya dengan baik.

5. Masing-masing pekerja bekerja dengan tidak terarah. Konsep keterarahan kerja pada dasarnya adalah konsep yang sangat sederhana. Agar pekerjaan terarah maka manajemen entitas A perlu melakukan pengendalian terutama dari sisi waktu. Jika manajemen sendiri tidak dapat dicontoh dalam hal tenggat waktu menyelesaikan pekerjaan maka bagaimana dengan para pekerja di entitas itu. Dalam entitas A tidak ada standar bahwa perkerjaan “A” harus diselesaikan beberapa satuan waktu. Kenyataan yang ada adalah perkerjaan banyak yang molor bahkan berulang tahun (sampai akhir tahun blm selesai shg harus diselesaikan tahun berikutnya).

Demikian kondisi entitas A yang sedang bingung. Jika anda adalah komponen atau bagian dari entitas A maka hal yang paling baik yang anda lakukan adalah melompat ke entitas lain yang lebih jelas.