Apa asosiasi anda mengenai KRL ekonomi? Jawabannya mungkin lekat dengan kata-kata sumpek, padat, copet, kumuh dsb.. kata-kata nggak enak lainnya. Lantas jika konotasi negatif itu msaih melekat apakah lantas membuat anda berhenti naik KRL? Jawabannya tentu tidak.

Sudah 3 minggu ini mulai 24 Agustus lalu hingga 14 September saya coba lagi naik KRL bukan pada jam sibuk. KRL ekonomi (KRL-Ek) menjadi pilihan karena faktor fleksibilitas. Faktor inilah yang tidak dimiliki moda transportasi lainnya/ Saya hanya menggunakan KRL-Ek hanya pada perjalanan pulang dari Kalibata menuju Pondok Cina pada sore sebelum jam empat. Di luar itu saya terus terang tidak berani memakainya. Walaupun tetap saja berdesak-desakan, namun alhamdulillan masih sampai di tempat tujuan.

Suasana negatif berdesak-desakan di atas KRL terus terjadi, ini membuat saya bertanya. “Apakah ini disengaja, apakah telah terjadi pembiasaan yang menuju pembinasaan. Jika menilik harkat dan martabat manusia, sepertinya pemiliki KRL-Ek belum sampai sejauh itu. Manusia pengguna KRL-Ek baru sebatas penumpang (bukan tamu dalam istilah di taksi) dan operator sebagai penyedia. Hubungan antara penyedia dan penumpang hanya sebatas pemanfaatan KRL-Ek sebagai transportasi, tidak lebih dari itu. Dari konteks budaya, hubungan seperti itu hanya terbatas dalam intensitas dan kualitas hubungan yang rendah

Apa sebenarnya yang salah. Menurut saya tidak tepat jika kita membiarkan kondisi ini terus terjadi. Jika membuat kajian baik dan buruknya sesuatu tentu saja ada penyebabnya. Sudah tentu, penyebabnya harus orang. Jangan berlindung dari kondisi suplai dan demand yang tidak seimbang. Kalau itu penyebabnya solusinya hanya satu, tambah jumlah dan frekuensi… selesai masalah.

Persoalan yang harus dijawab adalah budaya. Budaya dalam arti cara berfikir penyedia dan pengguna KRL-EK ini. Situasi berebutan dan berdesak-desakan terus menerus seperti ini apakah akan terus dipertahankan? Jika tidak maka kita harus mencari solusinya. Saya membayangkan para pengguna dengan sadar patungan (mungkin dengan cara donasi di atas harga tiket) untuk membeli gerbong baru. Gampangnya, sebut saja sebagai society investment. Masyarakat pengguna sebagai investor (pemiliki) kereta, dengan ini maka mereka akan memilki rasa memiliki dan berupaya melindungi dan menjaga aset tersebut dengan baik. Tujuannya hanya satu yaitu membuat KRL-EK lebih berbudaya.