Fase hidup kita dapat kita bagi dalam dasawarsa. Dasawarsa pertama adalah masa kanak-kanak 1 – 10 tahun, dasawarsa kedua 11 – 19 tahun adalah masa remaja, dasawarsa ketiga masa menuju kedewasaan (20 – 30 tahun), masa (usia 31 – 55) tahun adalah masa kematangan. Setelah itu adalah masa menuju usia senja.

Usia 31 hingga 55 tahun adalah periode dimana setiap personal dapat dinilai sama tidak peduli usianya dalam konteks bekerja. Yang membedakan hanyalah faktor pengalaman saja. Di usia tersebut jangan heran jika ada beberapa orang yang dapat mencapai posisi tinggi di awal usia 30 -an yang secara normal biasanya dijabat oleh orang-orang dengan usia 50 tahunan. Tengok saja misalnya Firmanzah yang menjabat dekan ekonomi UI pada usia 32 tahun. Atau sebut saja Laksamana sukardi yang jadi VP di CityBank bahaka papa usia 29 tahun.

Memasuki masa kematangan di usia 31 tahun ada beberapa hal yang berubah secara fisik maupun secara mental dan psikis. Di usia awal fase kedewasaan kita dituntut tanggung jawab yang lebih sebagai orang dewasa. Dalam hal karir, di benak saya sudah tidak terlintas lagi keinginan untuk mencoba-coba peruntungan di tempat lain. Ibarat petani yang telah memilki sawah garapan, saya hanya mencoba mengolah sebaik mungkin kapling sawah yang saya miliki untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin.

Saya cukup bersyukur dengan keadaan yang ada. Walaupun belum punya tunggangan beroda empat namun saya sudah memiliki rumah yang cukup lumayan. Keadaan keuangan juga secara relatif baik karena tidak memiliki tanggungan utang besar. Walaupun tidak kaya namun saya juga tidak merasa sebagai orang miskin.

Di usia awal kedewasaan ini orientasi hidup saya juga mulai berubah. Sekarang saya merasa harus lebih realistis dengan keadaan di sekitar kita. Saya mulai belajar tentang menjalin hubungan kerja yang lebih baik dengan rekan-rekan kerja. Saya harus mulai berempati dan menunjukkan rasa simpati yang lebih. Saya mulai mencoba memahami kondisi orang lain, dan tidak memaksakan merek untuk berbuat sesuatu yag dulu saya pernah lakukan (dalam konteks kerja). Di balik kebiasaan dan sifat-sifat yang berwarna dari rekan-rekan kerja, setiap orang pada hakikatnya memilki keunggulun yang spesifik yang perlu dimanfaatkan dengan baik. Pelajaran ini saya ambil setelah ada yang menyampaikan ke saya bahwa saya tidak berhasil membina anak buah dengan baik.

Mimpi-mimpi saya dulu pada saat awal mulai bekerja adalah bekerja di sebuah institusi yang diisi oleh-orang-orang yang kompeten, agresif, bermotivasi tinggi dalam mengejar target dan profesional mulai harus ditinggalkan. Namun apa daya, lingkungan kerja saya tidak sesempurna seperti yang saya bayangkan. Untuk mencapai pekerjaan yang terbaik saya sekarang mencoba mendorong rekan-rekan kerja agar berbuat lebih baik bukan hanya berfikir mengenai uang yang akan didapatkan namun kualitas perkerjaan harus ditingkatkan.

Ada kawan yang pernah bercerita bahwa kalau sekadar kerja maka yang didapatkan adalah uang, namun apabila kita memiliki hal lain berupa pengabdian, pembinaan dan menyebarkan hal yang baik-baik bagi orang di sekitar maka tabungan akhirat kita juga akan senantiasa meningkat. Nah unsur pengabdian kepada profesi, pembinaan dan coaching itulah yang harus saya lakukan agar pekerjaan dapat berhasil dengan baik. Sesuai dengan kode etik kerja yang ada di institusi tempat saya bekerja maka integritas, independensi dan profesionalisme mutlak dijaga dengan baik. Sarana berupa petunjuk kerja (SOP) di tempat kerja sudah disusun, walaupun tidak sempurna paling tidak sudah ada dan kita tinggal menjalani apa yang ada. Inilah yang mendorong kita untuk berbuat sesuai standar, syukur-syukur kalau kita berbuat beyond the call of duty.

Secara biologis kondisi fisik juga mulai menurun. Kebiasaan kerja yang timpang dengan kegiatan fisik membuat badan cepat lelah. Apalagi saya terus terang malas berolahraga, dengan kondisi itu maka penyakit pun mudah datang. Alhamdulillah secara genetik saya tidak memiliki riwayat penyakit berat. Memasuki era kedewasaan ini, permasalahan yang membuat saya pusing adalah cepatnya uban tumbuh di kepada dan ketombe yang tiada sembuh-sembuh. Mudah-mudahan awal era ini saya lebih berhasil dalam membina karir, rumah tangga, kondisi keuangan dan kondisi spiritual yang lebih baik.